Arak-arakan memasuki halaman depan gereja Katedral, matahari pada posisi 90 derajat, tidak ada sekumpulan awan menutup teriknya matahari. “Semua peserta langsung menuju penginapan masing-masing, demikian arahan singkat dari panitia pelaksana. “Kalau begitu buat apa kami ke sini, sampai di sini langsung disuruh ke penginapan masing-masing, guman seorang peserta dengan raut wajah kecewa. “Panitia ini bagaimana ko masa kami haus tidak kasih air minum atau kue lah, kalau tidak ada makan siang, seluruh peserta laki-laki dewasa sambil meneguk air mineral.

Ceritapun berlanjut, jam 13 lewat sedikit, rombongan paroki Watuneso, bergegas memasuki lorong dengan lebar sekitar 1,5 meter, tempat karantina, mencoba meraih asa pada ajang Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) serta beberapa kuis lainnya, yang di helat dari tanggal 5-7 Februari 2020. Hari selanjutnya, di lorong dengan panjang sekitar 200 meter itu, walaupun rasa lelah melanda namun semangat masih tetap berkobar. Kelompok Orang Muda Katolik (OMK) dan kelompok dewasa, terus mengasah olah vokal serta rasa percaya diri. Sementara yang mengikuti lomba kuis kitab suci serta mazmur masih terus berjalan. Untuk diketahui, sebutan Lorong Wanes ada filosofisnya, 99 persen masyarakat yang tinggal di Lorong Wanes adalah diaspora orang Lio Timur sudah sejak lama.

Hari yang dinantikan untuk show pun tiba. Untuk perdana, OMK pun coba meraih asa. Percaya diri sedang tinggi-tingginya, soal fashion serta rias wajah beda-beda tipislah dengan model papan atas ibukota, soal vokal ya dites saja. Hari berikutnya, kelompok dewasa, mencoba peruntungan, tidak jauh berbeda dengan kelompok OMK, percaya diri sangat tinggi, soal fashion serta rias wajah kece abis (emang dari lahir) , bagaimana dengan vokal, siapa takut….Aula Gadi Djou, saksi bisu pertunjukan spektakuler delapan kelompok dari OMK dan delapan dari kelompok dewasa se-kevikepan Ende. Apalagi live streaming broooooo…

Dan hasil diumumkan hari berikutnya diawali dengan misa penutup. Dag…dig…dug…rasa penasaran, terlihat pada raut wajah yang menunggu di lorong dilapisi beton. Pengumuman sendiri bisa diakses via you tube. Akhirnya peserta dengan nomor undian enam, baik OMK maupun kelompok dewasa, harus mengubur mimpi yang dalam, mimpi yang belum jadi kenyataan. Juara delapan dari delapan peserta adalah posisi yang pas untuk OMK dan kelompok dewasa. Sementara kelompok kuis serta mazmur juga meraih hasil yang kurang memuaskan. Wajah lesu, sedih serta tidak percaya atas hasil yang diperoleh menjadi memori yang tidak terlupakan kapan pun. “Apapun hasilnya kita sudah berusaha, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita, ujar Sekcam Lio Timur (waktu itu). Lanjutnya lagi, “Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan selama di sini, saya atas nama masyarakat di sini mohon maaf dan jangan cerita ketika tiba di Watuneso, yang diaminin juga oleh sesepuh Watuneso yang hadir saat itu, sambil mempersilakan makan siang bersama sebelum pulang….

…bangun jangan mimpi terus Lorong Wanes memanggil meraih asa lagiiii demi harga diriii…

( karya Onis )

(Karya)

Tinggalkan Balasan