Dan waktu sudah menunjuk pukul 10.30, tapi terik matahari sangat terasa panas, panas yang tidak menyurutkan tekad serta semangat. Di tengah sungai terlihat sekelompok orang tua, orang muda, bahu membahu menyusun batu, berusaha membentengi air sekaligus tempat untuk meletakan notu (seperangkat untuk menangkap ikan kecil yang terbuat dari rotan) Satu jam kemudian pekerjaan yang dilakukan usai termasuk memasang notu. “Hari ini kami buat lagi moru karena ipu (jenis ikan kecil) kami lihat masih ada, ujar bapak Germanus Nggala sambil menyeruput kopi hangat serta menghisap sebatang rokok. Tuhan memang Maha Adil, Si Uncle Sam maha digdaya pun kerepotan menghadapi virus Corona, namun komunitas kecil yang tak tampak oleh Google Maps pun masih santai menikmati karya Tuhan, apa sebab, “Mari sudah kita ke moru pertama lagi lima menit mau diangkat, ujar bapak Pris sambil membetulkan notunya yang rusak. Upssss, benar saja, setelah notu diangkat di moru pertama, ipu yang dihasilkan cukup banyak. Riuh suara saling bersahutan antara satu dengan yang lain. “Pelan-pelan ko Eja, mana ember, ambil sudah yang itu dua ratus ribu satu ember, tidak bisa kurang ko, kira-kira itulah suara sumbang terlepas ada atau tidak di kamus besar bahasa Indonesia. Menjelang sore, masing-masing mulai menghitung hasil yang diperoleh. Raut wajah ceria serta senyum bahagia tampak dari wajah mereka, pertanda hasil hari ini sebanding dengan kerja keras serta cucuran keringat yang membasahi wajah lugu. Ada yang mendapat lima ratus ribu, empat ratus ribu, tiga ratus ribu, setelah ipu diborong oleh para pembeli.
“Ya, beginilah kebahagian diperoleh yang tidak bisa tergantikan dengan apapun, walau se-isi bumi ini dihantui virus Corona. Dan inilah kreativitas kelompok kami melawan Corona, ujar Yoga alias As, sambil membetulkan tali celana yang sedikit kelonggaran….

“Nb: Moru, Ipu, Notu adalah bahasa Lio… (Onis)

Tinggalkan Balasan