DiponCyber Ende, “Ooooo tuge sai api” demikian pernyataan singkat dari pemangku adat untuk menghimbau kepada masyarakat adat segera menyalakan api.

Tepat hari Kamis, masyarakat adat Tana Lagu melakukan ritual adat Po,o Are yakni seremonial untuk meminta hujan serta menolak segala bentuk
hama, penyakit kepada para leluhur. Wujud dari seremonial tersebut adalah memasak nasi dengan cara dibakar, diisi dalam bambu dengan ukuran 1 meter. “Beras dibungkus dengan daun, terus isi didalam bambu, sekitar 10 banyaknya, terus dibakar, “ungkap Maria sambil meneguk segelas kopi.
30 menit kemudian, makin banyak masyarakat adat berdatangan, perempuan, laki-laki, dewasa ataupun anak-anak datang silih berganti memasuki tempat seremonial adat. Nama tempat itu, “PU” didalamnya terdapat “Lokarau’, tempat dimana para pemangku adat berkumpul, berbentuk lingkaran yang disusun dengan batu di tengah-tengah nya terdapat batu sebagai tempat menaruh sesajian untuk para leluhur.
“Kami senang sekali dengan acara po,o ini, biar bisa minta hujan dan menolak hama, supaya hasil panen kami bagus, “pungkas Siprianus Nggori sambil menghisap sebatang rokok. Untuk diketahui, ritual adat Po,o Are, biasanya dilakukan setiap tahun hanya satu kali, dihadiri oleh masyarakat adat Tana Lagu. “Satu tahun satu kali, biasa kami datang semua, kami senang, supaya kami bisa cepat tanam padi, jagung,” pungkas Eti, sambil menyalakan api.
Makin siang, suasana makin ramai. Kira-Kira 200 sampai 300 orang yang datang mengikuti seremonial adat tersebut. Sangat ramai, karena pada kesempatan ritual ini juga diikuti oleh siswa/i dari SMP Satap Detubelo, mereka mengambil bagian, sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada murid-muridnya.”Kami sangat senang dan antusias karena ikut acara ini, kami bangga dengan budaya kami, apalagi kami orang asli disini,”cerita Yelbin, sambil membetulkan rambutnya yang ikal.
Menjelang sore, saatnya masyarakat adat mengumpulkan po,o are yang sudah dimasak kepada pemangku adat makan bersama serta dibagi kepada para tamu yang datang. “Jadi setiap kepala keluarga harus kasi 1 buah, nanti kami siap untuk makan pemangku adat, sisanya bagi mereka yang datang dari jauh,” ungkap Reli da Silva.
Setelah pemangku adat makan bersama, pimpinan pemangku adat biasanya mengeluarkan beberapa penyampaian untuk di taati oleh masyarakat adat, seperti: tidak boleh melakukan aktifitas apapun selama 4 hari berturut-turut. (“mulai leja ina raka leja sutu, mawe ro kema mbana),”unkap Yansen selaku pimpinan adat dengan penuh wibawa. Tepat jam 17.00 wita, satu persatu masyarakat meninggalkan tempat tersebut sambil membawa masing-masing barangnya.

Onys

Tinggalkan Balasan