DiponCyberEnde , Gawi dalam bahasa Indonesia dapat disebut juga dengan kata, ‘Tandak. Secara kamus kata tandak bermuara pada kata bertandak yang berarti berkunjung, mengunjungi, menyatukan hati, langkah dan pikiran. Makna inilah yang menjadi dasar untuk menyebut Gawi sebagai Tandak dari daerah Ende Lio. Dalam lingkaran gawi, bentuknya mirip dengan lingkaran ular, ujung yang satu putar masuk ke dalam lingkaran, biasanya bagian laki laki yang berada di barisan itu “Eko Wawi” (bagian ekor, untuk mengebas agar dari semangat, gawi terlihat rame), sementara ujung yang satunya lagi melingkar keluar biasanya bagian perempuan, di ujung terakhir harus satu (1) orang laki laki, sebagai “ulu” (kepala), iramanya pelan tidak seperti di bagian “eko wawi”.
Gawi adat menurut kepercayaan suku Lio adalah tarian yang dilakukan hanya pada saat upacara adat, dan gawi berlangsung di tempat acara adat atau “Tubu Kanga” (Simbol Tanah dan Batu, atau Bumi) menurut kepercayaan setempat. Biasanya gawi melantunkan sya’ir oleh seorang dengan sebutan “Sodha” (seseorang yang melantunkan syair adat). sya’ir yang dilantukan menggunakan bahasa adat yang menggambarkan hubungan kehidupan masyarakat dan alam pada situasi dan kondisi saat itu. pada acara adat, tarian Gawi biasanya dilakukan setelah selesainya seremoni adat, dari upacara “pati ka” (syukuran) dan “pire” (untuk dihentikan sementara aktivitas kerja kebun, menanam, melukai tanah, kerja bangunan, dan tebang atau cabut rumput atau pohon yang tumbuh diatas tanah).
Kampung adat Rada’ara, Kelurahan Onelako, Kecamatan Ndona Sabtu, 14/11/2020, melakukan tarian adat Gawi sebagai penutup pire te’u (tolak bala). Acara adat ini, dilakukan sekali dalam setahun, biasanya terjadi di bulan Oktober atau November. Pada bulan itu, tanda-tanda alam melalui bunyi riang – riang (Naju) atau tumbuhnya daun baru pada pohon dedap (Dero) setelah melewati musim gugur, tanda – tanda itu menurut adat di Kampung Radaara yang berkaitan dengan musim tanam. Sehingga makna “pire te’u” sebagai wujud tolak bala, berlangsung disaat musim tanam agar dikemudian hari dijauhkan dari segala serangan hama, atau bencana lainnya yang akan menimpa masyarakat adat itu sendiri, setelah upacara “pire”, Tua adat mengumumkan Gawi, sebagai tanda berhasilnya masyarakat adat menjalankan “pire” (pantangan). Gawi pada acara adat seperti ini, dihadirkan seorang “sodha” (orang yang mampu melantunkan sya’ir adat atau penya’ir), kemampuan tersebut, diakui hanya orang – orang khusus yang mendapat ilham dari leluhur. Tutur Ruslan Mahmud Tokoh Adat.
Masyarakat yang hadir dan mengikuti tarian gawi adat, di beri beberapa syarat sebelum masuk bergabung di arena Gawi yang mengenakan Lawo – Lambu (mengenakan sarung motiv untuk peremuan dan untuk pria. Sarung (Luka), tidak ada alas kaki, mengikuti gawi tidak boleh menciptakan nuansa main – main, setiap peserta dalam lingkaran gawi wajib mengikuti sampai tiga kali putara di tubu. apabila syarat tersebut di langgar, peserta yang melanggar, diyakini akan di timpa risiko biasanya terjadi di saat orang tersebut tidak tau kapan itu akan terjadi. masyarakat yang ikut gawi tidak di mobilisasi , melainkan dengan sendirinya berdatangan untuk “Bebu Loka” (meramaikan) Tutur Ambros Pake, Tokoh Masyarakat
Fabianus M. Kota, kami sebagai masyarakat merasa bersukacita mengikuti gawi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang, melihat bahwa di akhir “pire” ada gawi, dengan sendirinya merasa menjadi bagian di dalam acara gawi untuk “bebu loka”. (AS)

Tinggalkan Balasan