DiponCyberEnde, Kondisi ekologis jenis porang tumbuh secara sporadis di hutan maupun di pekarangan sebagai tumbuhan liar, belum dibudidayakan secara besar-besaran serta belum banyak dikenal di kalangan masyarakat tani. Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 m
dpl, namun tumbuh baik pada ketinggian 100 – 600 m dpl. Pertumbuhan porang membutuhkan intensitas cahaya maksimum 40%, dapat tumbuh pada semua jenis tanah pada pH 6 – 7 (netral), dan tumbuh baik pada tanah yang gembur serta tidak tergenang air. Tumbuhan porang sifatnya toleran naungan (membutuhkan naungan), sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis kayu-kayuan, yang dikelola dengan sistem agroforestry. Intensitas naungan yang dibutuhkan porang untuk
mendukung pertumbuhannya. Pemerintah Daerah, melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ende, menanam tanaman porang dengan luas lahan 110 ha, yang menyebar di 13 desa di 3 kecamatan diantaranya Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Maurole dan Kecamatan Maukaro. Luas lahan tersebut menurut keterangan Kepala Dinas Pertanian bahwa sudah ditanam tanaman porang dan juga pemberiaan pupuk organik cair.

Oskar Vigator Wolo Sekretaris Pusam Indonesia mengatakan pemerintah harusnya mengedepankan mekanisme sebelum program tersebut direalisasikan ke masyarakat tani, sehingga jangan sampai timbul kebingungan ditengah masyarakat tani terkait dengan budidaya Tanaman porang. ” Musti dilakukan ditahap awal, pemerintah melakukan sosialisasi terhadap komoditi jenis porang ini, misalnya cara menanamnya terus porang itu seperti apa lalu kemudian nilai ekonomisnya juga penting. Sehingga terkesannya tidak secara tiba tiba, tanpa melakukan riset apapun tiba tiba ada program 110 ha untuk lahan tanaman porang sementara kita tidak tau daerah mana saja di ende yang misalnya porang ini cocok untuk ditanami atau dibudidayakan tetapi kalau serampangan model seperti itu kekuatiran kita jangan sampai program ini jadi mubazir “. Ungkapnya.

Oskar menambahkan, terkait dengan tanaman porang dirinya mengakui bahwa tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis, pemerintah jangan hanya menyuruh masyarakat tanam tapi tidak memikirkan cara mendatangkan investor untuk menyiapkan pasar. ” seharusnya pemerintah juga bisa mendatangkan investor untuk bersama sama pemerintah melakukan sosialisasi dan lain sebagainya kemudian investor itu serius misalnya sudah kerja sama dengan pemerintah mereka bisa menerima hasil pertanian berupa porang tadi, jadi pasarnya sudah tersedia “. Tambahnya.

Dekan Fakultas Pertanian Sri Mulyani membenarkan bahwa sebelum program tersebut dijalankan harusnya dilakuakan riset sebelumnya, sehingga petani memahami cara budidaya. ” Topografinya bagaimana, kesesuaian lahan kemudian zat zat yang bisa dihasilkan dari itu kemudian prodak turunannya petani yang menunjang kebutuhan ekonomi masyarakat “. Katanya.

Mulyani Menambahkan, terkait dengan tanaman porang yang sudah ditanam oleh masyarakat melalui program 110 ha tanam porang oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ende, dirinya berharap pemerintah perlu melibatkan mitra karena tidak semua petani itu tau cara budidaya tanaman porang yang baik dan benar jadi harus terus didampingi. ” program seperti ini dampingan harus ekstra dan libatkan banyak mitra dari sisi akademisi juga ada, LSM ada, pihak masyarakat juga ada sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama ketika ada hal tidak kita inginkan didepan bukan hanya dinasnya saja tetapi ada kemitraan “. Tuturnya. (AS)

Tinggalkan Balasan