DiponCyberLarantuka, 2. 700 – san ekor ternak babi mati yang tersebar di 19 Kecamatan Kabupaten Flores Timur, akibat wabah virud ASF (African Swine Fever) Jumad, 22/01/2021. Tahun lalu virus ini menyebar dari Timor Leste kemudian masuk ke Flores.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Dispernak) Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengatakan, penanganan terhadap virus ASF yang dilakukan tahun lalu, membuat himbauan dan menutup pintu masuk seperti, bandara, pelabuhan dan, jalur dari Kabupaten Sika. Dikatakannya, kita melakukan penyuluhan di setiap kecamatan yang menjadi pintu masuk penyebaran virus ke Kabupaten Flotim seperti, di Wulang Gitang, Larantuka, Waiwerang dan Adonara Barat sehingga di akhir tahun kemarin, serangan virus ini menurun. Namun penyebarannya kembali meningkat terjadi terjadi secara masif di setiap kecamatan itu di awal tahun. Sehingga kami melakukan penyuluhan atau pengarahan dari pusat kesehatan hewan (Puskeswan) yang ada di setiap kecamatan kepada peternak babi untuk menjaga kebersihan kandang dan mengontrol peredaran ternak babi agar babi yang mati dikuburkan.

” Kami melalui puskeswan di setiap kecamatan itu akan selalu mendampingi peternak babi dengan melakukan penyuluhan atau pengarahan, dengan menjaga kebersihan kandang dan mengontrol selalu peredaran ternak babi “, ungkap Sebast Sina Kleden Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan.

Tambahnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, pihaknya sudah melakukan rapat kerja (Raker) bersama DPRD terkait penanganan ternak babi yang mati, membangun komunikasi dengan stakeholder seperti, Lingkungan Hidup dan Dinas Kesahatan, dll, agar sama sama memberi penjelasan dalam penanganannya.

” Membangun pemahaman bagi masyarakat, itu memang penting sekali, apalagi hal ini sangat berdampak pada kesehatan lingkungan ” tandasnya.

Terkait penyebaran virus ASF yang meningkat dan jumlah ternak babi yang mati bertambah, pihaknya mengakui mengalami kesulitan untuk mengontrolnya. Sementara, cara penanganan peternak terhadap babi yang mati dengan, membuang ke laut, sungai, dan di hutan, akan menimbulkan masalah baru dan mendatangkan penyakit lain. Sehingga dirinya kembali berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan agar mengumumkan untuk tidak membuang sembarangan.

” Kami turun kembali, menyurati dan berkoordinasi ke pemerintahan kecamatan untuk bisa bersama dengan teman teman puskeswan, untuk bisa mengambil langkah mengumumkan agar tidak membuangnya sembarangan “

Tambahnya, pihaknya akan selalu update ternak babi yang mati melalui petugas di lapangan. Hingga hari ini, kasus kematian babi yang terlapor mati dan terserang virus ASF sebanyak 2700-san ekor babi dan cenderung untuk naik lagi dan serangan virus ASF di Adonara saat ini pada tingkat yang memprihatinkan. Untuk pencegahan, pihaknya melakukan penyuntikan vitamin agar imun tubuh ternak babi terjaga dari serangan virus ASF.

” Langkah yang di ambil untuk melakukan pencegahan virus ini yaitu, dengan memberikan penyuntikan vitamin guna menjaga kekebalan tubuh pada babi “, tutur Sebast Sina Kleden. (Fren Boly)

Tinggalkan Balasan