DiponCyberEnde, Pasien yang berinisial MNS yang berusia 54 tahun saat itu meninggal di ruangan isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Ende, pasien tersebut meninggal dengan status positif probable covid 19. Di ketahui pasien berprofesi sebagai pegawai PLN Ende dan, masuk Rumah Sakit sejak (Rabu, 20/01/2021), di rawat dengan penyakit bawaan seperti demam, sesak napas, gula dan, hepertensi meninggal pada Kamis, (21/01/2021) kini mendapat sorotan dari keluarga.

Pihak keluarga mendatangi Rumah Sakit untuk mengetahui kejelasan terkait kepastian almarhum MSN meniggal sebagai pasien positif probable covid 19 atau bukan, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil. Tujuan pihak keluarga ke Rumah Sakit karena merasa tidak puas dengan penanganan terhadap jenazah almarhum MSN, yang mana jenazah tersebut meninggal dengan status positif probable covid 19 agar bisa di perlakukan sesuai dengan keyakinan yang di anut, tapi tetap mengikuti prokes yang ada, menggunakan APD dan lainnya, baik dari pihak gugus tugas atau keluarga jika di izinkan. Namun kenyataan yang di alami oleh pihak keluarga jenazah MNS tidak demikian. Karena itu keluarga merasa kecewa terhadap pihak rumah sakit. Jumat, 29/01/2021.

“ Tadi kami baru tau dari Ibu Dokter, ternyata petugas yang mengurus jenazah dari rumah sakit sampai ke liang kubur itu, yang kami dari muslim satu pun tidak ada. Kalau beragama kita mau bungkus jenazah, dalam hati pasti kita sembahyang juga karena ini jenazah “, ungkap Umi Kalsum Natsir Suwetty.

Dirinya mengharapkan, agar kedepannya tidak terulang lagi kepada pasien lain yang meninggal dengan kasus seperti itu. Sehingga pasien yang meniggal bisa diperlakukan berdasarkan dengan keyakinan sesuai agama yang dianut. Serta penanganannya tetap menggunakan APD atau menerapkan protokol kesehatan yang berlaku tapi tidak mengabaikan kepercayaan yang di anut.

“ Supaya penguburannya bisa layak sesuai dengan keyakinan kita masing masing dan, dilibatkan keluarganya untuk memandikan jenasah itu boleh, asalkan keluarga mau berpakaian dengan APD untuk memandikan jenasah dan sembayang dengan dia “, tutur Umi Kalsum.

Usman Abdul Hamud Ketua Tan Fiziah Nadhlatul Ulama Kabupaten Ende mengatakan, pihak Gugus Tugas dan Rumah Sakit agar selektif lagi terkait dengan penanganan jenazah yang beragama muslim. Dijelaskannya, jika merujuk pada penjelasan dr. Aries mengatakan bahwa kalau di mandikan tidak bisa karena masih ada cairan yang dapat menyebabkan penularan maka, sholat jenazah itu penting.

“ Kalau sampai dengan dimandikan tidak bisa karena tadi itu di anggap masih ada  cairan, maka sholat jenasah itu penting. Apalagi setelah dibungkus rapih sudah tidak lagi “, ungkapnya.

Tambahnya, terkait dengan penanganan jenazah dirinya mengharapkan agar bisa dilakukan oleh petugas gugus yang berkeyakinan sama sehingga, bisa memahami proses penanganan sesuai keyakinan, asalkan di lengkapi dengan APD sesuai standart prokes. Jika bisa, agar tetap melakukan koordinasi degan pihak keluarga yang bersangkutan sehingga secara psikologi bisa diterima pihak keluarga.

 “ Tetapi kalau dari keluarga mau melakukan, menangani jenasah tidak menyalahi prokesnya dan, dari pihak tim gugus menyiapkan APD, saya kira diserahkan saja, kita manusia agama apapun juga sama saja “, tutur Usman Abdul. (AS)

Tinggalkan Balasan