Oleh: Antonius Yano Dede Keytimu
Wakil Presidium Gerakan Kemasyarakat PMKRI Cabang Maumere

Budaya gotong-royong sebagai ciri khas masyarakat Kabupaten Sikka, terlebih khusus Desa wolomotong, kecamatan Doreng harus selalu dipertahankan. Hal ini merupakan bentuk nyata solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat. Setiap warga masyarakat yang terlibat di dalamnya memiliki hak untuk dibantu, dan juga berkewajiban untuk membantu. Disini terdapat azas timbal balik yang saling menguntungkan.

Namun apa yang terjadi, sejak munculnya arus globalisasi dan modernisasi, oleh sebagian orang dianggap sebagai peluang yang luar biasa hebatnya. Dampaknya luar biasa, terutama terhadap nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat yang semakin individualis dan munculnya konflik sosial. Untuk menghindari terjadinya konflik sosial, di tengah-tengah masyarakat, dimasa lalu hampir setiap saat kita selalu diingatkan, diperdengarkan dan diperlihatkan suatu kalimat yang indah, manis dan menarik yaitu “Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Apapun upaya yang dilakukan, hampir semuanya mengarah pada kepentingan bersama. Itu, hampir disetiap kesempatan selalu didengungkan, baik oleh pimpinan Pemerintahan, LSM dan berbagai media massa, baik melalui radio, televisi dan surat kabar.

Namun sangat disayangkan, hal itu akhir-akhir ini hampir terlupakan atau sengaja dilupakan, dan tidak terdengar lagi. Apakah ini pertanda, kita sudah tidak lagi peduli terhadap sesama?

Hal ini dapat dijadikan renungan, mau kemana arah Desa ini ke depan, bila persatuan dan kesatuan kita mulai goyah atau sengaja dibikin goyah. Gotong-royong akan memudar apabila rasa kebersamaan mulai menurun dan setiap pekerjaan tidak lagi terdapat bantuan sukarela, bahkan telah dinilai dengan materi atau uang.

Kegiatan gotong-royong baik di perdesaan maupun di perkotaan, wajib dijaga bersama, menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi strategi dalam pola hidup bersama yang saling meringankan. Munculnya kerjasama semacam itu sebenarnya merupakan suatu bukti adanya keselarasan hidup antar sesama bagi komunitas, terutama yang masih menghormati dan menjalankan nilai-nilai kehidupan, yang biasanya dilakukan oleh komunitas pedesaan atau komunitas perkotaam. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa, komunitas masyarakat yang berada di perkotaan juga dalam beberapa hal tertentu memerlukan semangat gotong-royong.

Yang mengakibatkan hilangnya budaya gotong royong antara lain tumbuhnya paham individualis, komersialis di kalangan masyarakat, sehingga muncul sifat individualistik yang acuh tak acuh dengan sesamanya, seakan tutup mata dan telinga terhadap orang lain yang memerlukan pertolongan, hanya mau membantu orang yang dikenal saja, bahkan tak jarang yang memiliki motto hidup, “Tidak ada bantuan jika tidak ada imbalan”. Jika itu terus dibiarkan, maka akan tercipta perpecahan diantara masyarakat.

Namun demikian, hiruk-pikuk perbedaan dan peruncingan masalah yang muncul di tengah masyarakat, kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwasanya saya memberikan sacarik tulisan, dan mencoba melakukan terobosan sangat ampuh guna membangkitkan kembali budaya hidup gotong-royong, yang akhir-akhir ini dinilai sudah mulai memudar di tanah air tercinta ini. Terobosan tersebut dibarengi dengan menggandeng berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra kerja lainnya yang sama-sama peduli terhadap nasib kabupaten Sikka, terlebih khusus Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng dan, tidak ingin melihat Daerah ini menjadi daerah yang terpecah-pecah.

Upaya yang dilakukan adalah membentuk dan mengembangkan pos-pos pemberdayaan keluarga (posdaya) terlebih khusus Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng. Posdaya merupakan wahana, forum silaturahmi dan wadah untuk membangkitkan kembali budaya gotong-royong di masyarakat. Di dalam posdaya, keluarga-keluarga diajak secara musyawarah, memecahkan berbagai persoalan di lingkungannya, sehingga setiap anggota memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya serta segala sesuatu dapat dipecahkan bersama.

Dengan diawalinya musyawarah di tingkat akar rumput, budaya saling mengenal dan bersilaturahmi, maka akan tercipta budaya hidup gotong-royong yang secara nyata dilakukan. Gotong-royong bukan sekedar diomongkan ke publik, tetapi benar-benar dilaksanakan melalui posdaya. Karena di dalam posdaya segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus merasa ada yang dimenangkan maupun ada yang dikalahkan.

Semua merasa senang dan happy karena di dalam posdaya diciptakan adanya bentuk saling menghargai dan menghormati sesama . Bukan lagi memperuncing permasalahan, tetapi dengan musyawarah untuk mufakat guna menemukan solusi yang diharapkan bersama.

Kuncinya, di dalam posdaya keluarga berazaskan gotong-royong dan kebersamaan. Mereka berbagi kasih dan kebahagian bersama serta semua merasakan manfaat secara bersama. Semoga bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang besar, tetap menghargai nilai-nilai leluhurnya.

Tinggalkan Balasan