Oleh: Ferdigandus S. Pareira

Adalah sebuah kewajiban bagi seorang Anggota Legislatif baik ditingkat Nasional, Provinsi maupun Kabupaten untuk selalu menjalankan fungsinya secara arif dan bijaksana.

Kewajiban dalam menjalankan fungsi tersebut tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa dibatasi oleh sekat – sekat primordial. Hadir untuk semua kalangan bukan kepada konstituen yang menghantarkan pada kursi kehormatan.

Alih – alih mengabdi, namun pada kenyataanya sang anggota legislatif tersebut cenderung melihat pengabdian pada sisi, apa, siapa dan bagaimana. Apa yang diberikan diperhitungkan secara matang, akan-kah mendatangkan keuntungan? Siapakah yang pantas dan layak menerimanya? bagaimana cara agar konstituen tetap konsisten pada pilihannya. Berbagai macam spekulasi diperhitungkan demi sebuah kehormatan. Selalu berkedok pada “pelayanan pencitraan”.

“Pelayanan pencitraan tersebut kian merajalela terkhusus ditengah pandemi Covid – 19. Didaerah, situasi ini dimanfaatkan secara baik oleh anggota Legislatif untuk menebar kebaikan. Sumbangan sembako bahkan sampai pada proses penganggaran masuk dalam nominasi hitung – hitungan.

Mulai memilah – milah pada persekongkolan, baik berupa jabatan, bahkan sampai pada “jubir”. Peluang dan kesempatan ditengah wabah ini semakin menuju pada birokrasi yang amburadul….

Tinggalkan Balasan