Oleh: Hendra Charlitoz

Salam penuh rahmat, wahai!
Hawa yang tak lagi bernyawa.
Di sudut senja yang sebentar lagi tanggal
Ada rindu yang tetap tinggal
Senja kali ini tak lagi jadi candu
Selalu gaduh merobek rindu

Kita pernah ikrar janji di ujung jingga
Menenun rindu hingga tak terhingga

Salam penuh rahmat, wahai!
Hawa yang tak lagi bernyawa
Saban hari di ritus sebuah musim
Kita saling melilit rindu
Semakin tajam pada larik larik doa
Namamu ku sebut, namaku kau sebut
Pada bulir bulir bernas Rosario
Kita menuntaskan rindu ..

Salam penuh rahmat, wahai!
Hawa yang tak lagi bernyawa
Terberkatilah buah rahimmu
Tempat rindu dan sendu bersua

Salam penuh rahmat, wahai!
Hawa yang tak lagi bernyawa
Sendiri ku menepi ke sepi
Menambal nafas yang kian menepi

Pada matamu, Ibu
Aku ingin tenggelam
Melepas semua resah dan ingin
Pada kehangatan pelukmu yang masih terasa

Pada jemarimu yang masih ingin kusentuh
Pada tawamu yang selalu teduh
Pada sepi yang paling syahdu
Ada rindu yang paling suci untukmu
Mama Inosensia Serviana Nona

Hawa Penuh Rahmat
Terberkatilah engkau diantara para Kudus
Di surga yang abadi …
(Di samping Pusaramu, saat detak angka rasul tepat pukul 00)

Tinggalkan Balasan