DiponCyberMaumere, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere St. Thomas Morus, mengadakan diskusi terbuka dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia. Kegiatan ini, bertempat di Margasiswa PMKRI Maumere, dan dipelopori oleh Presidium Pendidikan & Kaderisasi (PPK) Emanuel W. Wisang melalui Biro Diskusi Kornelis Wuli. Senin, 08/08/2021.

Diskusi bertajuk ” Perempuan Di Hadapan Budaya Patriarki “, dipaparkan oleh Maria Apriani Kartika Solapung (Pegiat Komunitas KAHE) selaku Narasumber Tunggal. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 100 peserta terdiri dari, anggota biasa PMKRI Maumere, perwakilan PMKRI Cabang Makassar, Cabang Yogyakarta, Cabang Jakarta Selatan, perwakilan Komunitas KAHE, serta masyarakat lainnya.

Momentum Peringatan Hari Perempuan Sedunia, spesial didedikasikan bagi perjuangan kaum perempuan di seluruh dunia.

Tika Solapung dalam materinya menerangkan bahwa, dalam situasi dan kondisi yang terjadi dalam budaya Patriarki, tetap ada kekhasan dan persoalan berbeda yang dihadapi perempuan dalam masyarakat yang mana, ketidakpuasan kaum perempuan dengan kehidupannya ditentukan dan, didefinisikan oleh Laki- laki.

Ini kemudian, memunculkan sebuah gerakan perlawanan yang kita sebut sebagai Feminisme atau juga Emansipasi Wanita.

Dirinya memaparkan, dalam teori Kate Millet, Feminis Radikal-Libertarian menjelaskan, sistem ideologi patriarkat terlalu mendewakan perbedaan biologis antara laki- laki dan perempuan, dan memastikan laki- laki selalu memiliki peran yang dominan (maskulin), sedangkan perempuan selalu mempunyai peran yang subordinat (feminim).

Hal ini mengakibatkan kebanyakan perempuan menginternalisasi rasa inferioritas diri terhadap kaum pria.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Maumere Flavianus Nong Raga memberikan apresiasi kepada Presidium Pendidikan & Kaderisasi, melalui Biro Diskusi yang telah menyukseskan kegiatan Diskusi Terbuka dan juga Maria Apriani Kartika Solapung dari Komunitas KAHE sebagai Narasumber.

Ia menambahkan, Momentum International Woman’s Day menjadi sebuah stimulus menggebrak paradigma khalayak yang kerap menjustifikasi dan mendiskreditkan kaum perempuan dalam setiap lini kehidupan. Setiap ruang, dapat di berikan kepada kaum perempuan untuk berkontribusi membangun kolaborasi.

” Kaum perempuan musti berani, menanggalkan rasa pesimis dan gengsi yang melekat, melawan sistem budaya patriarkat yang terlalu radikal, serta tingkatkan kemauan dan inisiatif dalam diri untuk maju dan tampil “, tutur Flafianus. (WY)

Tinggalkan Balasan