Oleh: Antonius Yano Dede Keytimu, Wakik Presidium Germas PMKRI Maumere.

Tulisan ini saya angkat bertolak dari masalah yang dihadapi masyarakat Sikka saat ini.

Ada segelintir orang membentuk budaya adat disalah satu daerah Kabupaten Sikka, yang sudah sangat keliru mengenakan pakaian adat yang sudah di wariskan oleh leluhur nian tanah Sikka. Saya secara pribadi, siap menjelaskan bagaimana masyarakat Sikka mengenakan pakaian adat yang baik dan benar, menurut warisan dari leluhur nian tanah Sikka.

Masyarakat Kabupaten Sikka, Kota Maumere Privinsi Nusa Tenggara Timur, banyak kebudayaannya dipengaruhi oleh budaya asing, seperti Bugis, Cina, Portugis, Belanda, Arab, dan India. Pengaruh Portugis dan Belanda, tampak pada tata busana barat yang dewasa ini sudah menjadi pakaian sehari-hari. Pengaruh India muncul pada hasil tenunan, yaitu pada pembagian bidang-bidang dan corak yang diilhami oleh kain patola. Meskipun demikian, masyarakat Sikka tetap dapat mempertahankan ungkapan budaya tradisionalnya lewat pakaian serta tata riasnya.
Untuk Pria ( Ata lai), biasanya mengenakan Lesu Widin Tilun (Destar) yaitu ikat kepala yang terbuat dari kain batik yang dililitkan sedemikian rupa, sehingga bagian sampingnya memanjang ke bawah menyerupai telinga kambing.

Kaum pria juga mengenakan sembar yaitu, selempang yang disilangkan di dada yang biasanya bermotif flora dan fauna. Bajunya disebut Labu, merupakan penutup tubuh pria. Biasanya berwarna putih, sedangkan untuk penutup tubuh bagian bawah mereka mengenakan Lipa atau Ragi yang dilitkan dipinggang. Lipa adalah kain sarung pria, yang berwarna-warni cerah dan bermotif flora. Sedangkan ragi adalah kain sarung pria yang berwarna gelap dengan garis-garis biru melintang. Panjang lipa atau ragi sampai mata kaki. Sebagai pelengkap, pria dapat menggunakan gelang besar yang disebut Mone dan ikat pinggang besar berwana hitam yang disebut Peket.

Untuk Wanita (Ata Dua)
Para wanita mengenakan baju atau bahasa adatnya adalah, Labu liman benun, berbentuk mirip kemeja berlengan panjang terbuat dari sutera atau kain yang berkualitas baik. Labu wanita ini terbuka sedikit pada pangkal leher, guna memudahkan saat pakai, sebab polanya tidak menyerupai kemeja atau blus yang lazim berkancing pada bagian depannya.

Sebagai penutup tubuh bagian bawah, mereka mengenakan sarung Sikka dengan bermacam-macam motif flora dan fauna. Sarung untuk wanita disebut Utan. Para wanita juga mengenakan Dong yaitu kain sejenis selendang yang dipakai melintang di dada atau dililitkan dipinggang. Warna dong juga disesuikan dengan acara. Untuk pesta adat biasanya orang menggunakan dong dengan warna cerah, sedangkan untuk acara kedukaan biasanya menggunakan warna hitam.

Di bagian kepala rambut para wanita dibentuk melingkar seperti ular, yang disebut Legen. Tentu saja harus berambut panjang kalau jaman dulu. Kalau rambut kita tidak panjang biasanya menggunakan bantuan rambut palsu, yang dinamakan Semarang. Legen kemudian diperkuat dengan tusuk konde yang dinamakan Hegin, dan hiasan yang disebut Soking. Pada pergelangan tangan dipakai kalar yang terbuat dari gading (kalar bala) dan perak.

Penggunaanya disesuaikan dengan suasana peristiwa seperti upacara-upacara atau pesta-pesta adat. Jumlah kalar gading dan perak (atau emas) biasanya genap yakni, dua atau empat gading dengan dua perak pada setiap tangan. Perhiasan lain yang digunakan kaum wanita adalah cincin yang disebut Kila, kalung yang disebut Lodan, dan anting-anting yang disebut Suwong. Saat ini kila, lodan dan, suwong, bisa dari emas atau bahan lain yang disesuaikan dengan pakaian dan kemampuan.

Saudara – saudari kaum muda penerus nian tanah Sikka yang saya banggakan, marilah kita merawat dan melestarikan budaya adat Sikka. Jangan sekali kali kita melecehkan, budaya kita tercinta yang diwariskan dari yang mulia leluhur kita, dengan cara yang tidak pantas. Karena identitas budaya adat, menunjukan siapa kita yang sesungguhnya. Marilah kita bergandeng tangan menjaga tradisi budaya Nian tanah Sikka. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi.
Orang Sikka mengatakan AMI NORAN SAIN GUN SAIN NULUN, SAIN WATU PUHUN BLUTUK, TANA WUA NURAK.

Tinggalkan Balasan