Oleh: Yoseph Akmas Rodin, Biro Komisariat Kampus UNIPA, PMKRI Cabang Maumere.

Gong waning adalah satu alat musik tradisional Kabupaten Sikka, Nusa tengara Timur. Alat musik satu ini, merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditabuh (dipukul). Gong waning terdiri dari beberapa jenis intrumen seperti, waning (gendang besar), dodor (gendang kecil ), pletar peli anak (saur). Waning sendiri, merupakan alat musik sejenis gendang besar dan gendang kecil  terbuat dari kayu kelapa, dan hanya memiliki satu membran, dan dipasang dengan kulit sapi. Pada perangkat gong yang digunakan dengan nada yang berbeda-beda, dari nada rendah sampai nada tinggi. Gong tersebut di antaranya gong ina wa’a, gong ina depo, gong lepe, gong higo-hagong, dan gong udong.

Untuk gong higo-hagong, biasanya terdiri dari dua gong yang berbeda namun dimainkan secara bersamaan, apabila salah satunya tidak ada, maka musik yang di hasilkan akan terdengar rancu. Sedangkan untuk peli anak (Saur), merupakan potongan bambu kurang lebih satu meter. Peli anak ini biasanya digunakan untuk menstabilkan irama pukulan gong waning. Alat musik ini biasanya dimainkan sebagai pengiring tarian, baik dalam acara adat, maupun pertunjukan seni tari. Alat musik gong waning, masih sangat kental dan tetap dilestarikan dari generasi ke generasi.

Salah satunya adalah masyarakat Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Bunyi musik gong waning bertalu-talu membahana di pelataran kampung Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Para anak muda, tampak serius menabuh gendang dan memukul gong, sementara beberapa orang seperti orang tua dan anak mudah menari serius dengan balutan pakaian tradisional (Busana adat). Ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan leluhur secara turun temurun. Anak-anak muda tersebut, merupakan bagian dari kelompok musik gong waning Tana Bunga Wolomotong. Jumlah mereka sekitar 12 orang. Namun, tak hanya itu, ketika diperhatikan lebih saksama ke lokasi desa wolomotong tempat mereka berkumpul dan  memainkan alat musik gong waning.

Ditemukan, ada juga beberapa anak kecil yang memegang alat musik, Sambil menikmati irama gong waning. Gong waning sudah berusia sejak dari leluhur. Akan tetapi, dilihat dari latar belakang kaum muda Desa Wolomotong, mempunyai kemampuan bakat dan minat, akhirnya dibentuk kelompok gong waning yang sudah berusia 3 tahun, dan diberi nama Gong Waning Tanah Bunga. Kelompok ini, dibentuk pada 29 Oktober 2018, nama Gong Waning Tana Bunga Wolomotong merupakan nama dari  Kampung Wolomotong itu sendiri. Gong Waning Tanah Bunga Wolomotong, pernah meraih juara 1 lomba Festival gong waning 2019, dan ini merupakan satu kebanggaan besar. Saya, sebagai anak mudah wolomotong memberikan apresiasi, dan menyatakan dukungan sepenuhnya atas kreativitas yang di kembangkan, sehingga warisan yang diberikan dari leluhur bukan hanya menjadi cerita belaka, namun di kembangkan terus oleh generasi ke generasi seterusnya. Marilah kita bergandeng tangan, menjaga tradisi budaya Nian Tanah Sikka. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Orang Sikka mengatakan AMI NORAN SAIN GUN SAIN NULUN, SAIN WATU PUHUN BLUTUK, TANA WUA NURAK

Sebagai anak mudah wolomotong, memberikan apresiasi dan menyatakan dukungan sepenuhnya, atas kreativitas yang di kembangkan sehingga warisan yang diberikan dari leluhur, bukan hanya menjadi cerita belaka namun di kembangkan terus oleh generasi ke generasi seterusnya. Marilah kita bergandeng tangan menjaga tradisi budaya Nian tanah Sikka. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Orang Sikka mengatakan AMI NORAN SAIN GUN SAIN NULUN, SAIN WATU PUHUN BLUTUK, TANA WUA NURAK..
Kata AMI NORAN SAIN GUN SAIN NULUN, SAIN WATU PUHUN BLUTUK, TANA WUA NURAK.

Bukan hanya sebatas kata khiasan biasa, namun memiliki makna yang begitu besar. Bagi saya, anak-anak muda musti punya kepercayaan diri, dalam mengembangkan minat dan bakat karena Desa wolomotong kaya akan alam dan budaya. Harapan besar saya semoga suatu saat nanti Desa Wolomotong bisa jadi destinasi wisata budaya dan alam.

Tinggalkan Balasan