Oleh: Yoseph Akmas Rodin, Biro Komisariat Kampus UNIPA, PMKRI Cabang Maumere.

Pandemi Covid-19, telah memberikan gambaran atas kelangsungan dunia pendidikan di masa depan melalui bantuan teknologi. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran guru dalam interaksi belajar antara pelajar dan pengajar, sebab edukasi bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi. Situasi pandemi ini, menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas setiap individu dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan dunia pendidikan.

Saat ini, pandemi menjadi tantangan dalam mengembangkan kreativitas terhadap penggunaan teknologi, bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi juga bagaimana memastikan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik.

Masa pandemi ini, dapat melatih serta menanamkan kebiasaan menjadi pembelajar mandiri, melalui berbagai kelas daring atau webinar yang diikuti oleh siswa. Selain itu, siswa juga dapat bekerja sama satu dengan yang lain, untuk menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran serta menghadapi permasalahan nyata yang ada. Situasi ini, bukan hanya menjadi tantangan bagi siswa, namun juga para guru dalam menyampaikan edukasi dimana, guru perlu memastikan bahwa siswa memahami materi pembelajaran.

Pembelajaran daring, menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dengan situasi Sikka yang memiliki banyak desa yg tidak bisa terjangaku jaringan internet. Bagaimana teknologi dapat digunakan?, bagaimana penyediaan akses internet pada daerah-daerah terpencil dimana barang elektronik ( Hp,Leptop ) tanpa akses internet pun masih menjadi suatu kemewahan?

Ini merupakan tantangan bagi semua pihak, saat ini kita harus bekerja keras bersama, bagaimana membawa teknologi menjawab permasalahan nyata, yang terjadi pada Siswa dan guru yang kurang beruntung dalam hal ekonomi maupun teknologi yang berada di daerah-daerah terpencil.
Kondisi pandemi Covid-19, juga memaksa para pemangku kebijakan di bidang pendidikan untuk dapat menyesuaikan diri dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Kesejahteraan guru maupun murid, yang membatasi mereka dari keadaan serba terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi, sangat diperlukan dengan musibah Covid-19 ini. Banyak hand phone hanya dimiliki orang tua, sehingga siswa hanya bisa mengerjakan tugas kalau orang tuanya sudah pulang kerja. Bilamana pembelajaran dan pengerjaan tugas dibatasi waktu otomatis tidak bisa mengikuti pembelajaran.
Disisi lain, banyak orang tua juga mengeluh apakah harus membayar uang SPP atau mengisi paketan kuota, sehingga anaknya bisa mengikuti pelajaran. Hal ini karena krisisnya ekonomi dan rata-rata orang tua dari siswa profesi sebagai petani dan harga komoditi anjlok.

Tidak jarang juga, siswa tidak bisa mengerjakan tugas karena tidak mampu membeli kuota paket data. Akses Internet yang terbatas, tidak semua lembaga pendidikan baik sekolah dasar maupun sekolah menengah dapat menikmati internet dengan baik. Apalagi dipelosok pedesaan yang terkadang sinyal internet tidak ada.

Kurang siapnya penyediaan anggaran, aspek kesejahteraan guru dan murid masih jauh dari harapan. Ketika mereka menggunakan kuota internet untuk memenuhi kebutuhan media daring, akan terasa sangat berat.

Untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas guru, Dinas Pendidikan harus bekerja sama dengan provider untuk melakukan pelatihan penggunaan iptek dalam rangka pembelajaran jarak jauh, meskipun dengan kuota terbatas. Namun, hal tersebut merupakan salah satu langkah yang perlu, dalam upaya peningkatan kapasitas guru.

Peran kepala sekolah dalam mendorong para pendidik dan tenaga kependidikan untuk melek iptek di masa pendemi ini, merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh. Dengan adanya kebijakan pemberian pelatihan, melalui webinar ataupun workshop tentang proses belajar mengajar bagi para pendidik dan tenaga kependidikan, dapat meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, dalam memberikan layanan bagi peserta didik.

Kerja sama yang dilakukan antara pihak sekolah dengan pihak provider untuk peningkatan layanan internet di sekolah, merupakan salah satu upaya pemecahan masalah tentang keterbatasan sarana dan prasarana penunjang ilmu pengetahuan dan teknologi di sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Pentingnya peran kepala sekolah, menjalin kerja sama dengan provider dalam proses pelayanan pemberian subsidi kuota menjadi bantuan yang dapat meringankan orang tua dan siswa itu sendiri.

Peran orang tua mendampingi pesdrta didik selama pembelajaran jarak jauh, memang diperlukan komitmen, agar bersedia meluangkan waktu untuk mendampingi anak didik ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran. Melakukan pengawasan dengan meminta jadwal proses pembelajaran kepada anak, turut melakukan proses pengecekan tugas yang dikerjakan. Meluangkan waktu, adalah satu-satunya kunci untuk pendampingan terhadap anak didik selama proses pembelajaran jarak jauh.

Sistem pembelajaran jarak jauh saat ini, menurut pengamatan penulis masih menjadi beban bagi para guru, orang tua siswa dan peserta didik. Pemerintah perlu memperhatikan kondisi ekonomi para orang tua dan siswa yang terdampak pandemi Covid-19, jika sistem pembelajaran jarak jauh masih menjadi pilihan. Sistem pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan dalam beberapa bulan terakhir ini, menurut penulis belum efektif.

Untuk itu, evaluasi secara komprehensif perlu dilakukan pemangku kepentingan, dari pihak sekolah, komite sekolah, tokoh masyarakat, para orang tua, wali murid serta Dinas Pendidikan perlu dilakukan agar kualitas pendidikan tidak merosot. Karena pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi sebuah bangsa, menyangkut masa depan anak ( generasi penerus ).

Tinggalkan Balasan