Oleh: Theodorus Buru, Biro Media Komunikasi dan Informasi (Medkominfo) PMKRI Cabang Maumere, St. Thomas Morus

Perkembangan dan kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi termutakhir turut serta, mempengaruhi  pola hidup dan cara berpikir masyarakat moderen. Ada begitu banyak dampak positif yang ditimbulkan dari perilaku mengkonsumsi informasi dan advertensi media sosial, yang membantu masyarakat memperoleh pengetahuan baru dan teraktual, namun tak bisa dipungkiri ada pengaruh negatif yang menyelinap masuk menghujani mentalitas, moralitas, dan cara berpikir masyarakat yang rentan konfrotasi dengan nilai-nilai luhur yang sudah melekat erat dalam kehidupan bermasyarakat. Di sini penulis memiliki animo untuk menampilkan dan membedah problematika, yang berkaitan dengan degradasi moral yang ditimbulkan dari perilaku konsumsi media sosial serta tindakan solutif yang mampu mencegah dan mengatasi persoalan tersebut.

Fenomena bobroknya mentalitas setiap manusia, selalu bertendensi terhadap penurunan atau degradasi moral manusia tersebut. Perkembangan teknologi selalu berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan, dan senantiasa mempengaruhi mentalitas masyarakat. Setiap manusia memiliki perspektif dan paradigma berpikir, yang tentunya berbeda satu sama lain. Setiap manusia selalu bersama, tapi tak selalu sama, atau dengan kata lain satu objek dilihat dan ditafsir berbeda oleh dua subjek. Hal ini, tentunya sama persis dalam kehidupan masyarakat dimana setiap orang tentu memiliki tafsiran yang berbeda, dari salah satu informasi yang diberitakan oleh media sosial. Media sosial dimanfaatkan bukan sekedar mencari informasi terbaru sebagai media edukasi dan pembelajaran, sarana manusia saling berkomunikasi satu sama lain, mempermudah akses komunikasi, namun media sosial misalnya Facebook digunakan sebagai media manusia menyebarkan isu yang berbau SARA. Dari tafsiran yang berbeda ini pula, mempengaruhi pola hidup dan pola pikir masyarakat, semisal kita menonton dan mencermati di facebook, Whatsapp, Twitter. Gaya hidup orang Eropa, yang mana kaum pria memakai anting ditelinga, sebagai bentuk ekspresi diri , atau kaum perempuan Eropa, yang selalu menggunakan rok pendek atau bahasa pasarnya celana umpan (CU) yang sekarang ini sedang tren dalam kehidupan anak muda kita di Indonesia. Hal ini tentunya, bertentangan dengan nilai-nilai moral dan norma yang dianut masyarakat kita. Mentalitas semacam ini, sudah mewabah dan menjadi kebiasaan dalam diri anak muda jaman now. Mentalitas seperti ini pun, berseliweran dalam aspek aspek kehidupan lainnya misalnya dalam dunia politik, para politisi yang berpendidikan dan berintegritas katanya, bukan lagi menjadi panutan bagi masyarakat, melainkan terjebak dalam kungkungan mentalitas glamor dan hedonisme, dan selalu mengarah kepada tindakan amoral misalnya perselingkuhan, korupsi merajalela, narkoba dan sebagainya. Dari peristiwa-peristiwa ini, mewakili begitu banyak perilaku moral kita yang masih jauh dari harapan kita bersama, dan mengindikasikan bahwa perilaku moral menjadi salah satu persoalan serius yang sedang kita hadapi dewasa ini, dan mungkin di masa yang akan datang.

Dampak yang ditimbulkan dari perilaku mengkonsumsi media sosial secara radikal, akan menyebabkan adanya tendensi untuk bersikap egois, hedonis, dan lebih mementingkan diri sendiri dan keselamatan diri atau kelompok. Mental subsisten adalah dampak lain yang bisa dilihat, artinya kebutuhan diri saat ini terpenuhi. Mentalitas seperti ini, akan menghantar orang kepada suatu prinsip hidup. “ Hari ini senang, besok cari lagi ”, dan memangkas kemampuan orang dalam memproyeksikan diri dan memprediksi masa depan. Dari contoh-contoh yang sudah diangkat diatas, menunjukkan bahwa perilaku amoral sedang menjamur dan menggurita di Tanah Air yang kita cintai bersama ini. Ini merupakan fenomena miris dan membuat mentalitas generasi milenium akan mengalami kedangkalan dan kecacatan berpikir, serta bertindak dalam kehidupan bersama. Hal ini perlu kita refleksikan bersama, dan menjadi tantangan serius bagi mentalitas generasi di masa yang akan datang. Bukankah kita semua menginginkan pemimpin-pemimpin yang bermoral dan berbudi baik? Ini menjadi refleksi yang mendalam, berkenaan dengan suara hati nurani kita masing masing dalam menyikapi dan mengekspetasi hal hal yang teridentifikasi berkaitan dengan deviasi atau distorsi moral.

Usaha solutif yang dapat penulis berikan adalah, perlunya pembelajaran dan pendidikan karakter terhadap kaum milenial, untuk bisa menyortir setiap pemberitahuan dan informasi di media sosial serta, memiliki kompetensi membuat distingsi mengenai informasi yang bersifat konstruktif dan destruktif agar bisa meminimalisir tidak terjebaknya kita kepada suatu prosesi penyembahan berhala terhadap media sosial dan terjerumus dalam sikap hidup konsumtif. Oleh karena itu, kita membangun kesadaran untuk merawat etika komunikasi dan membangun sikap kritis.

Tinggalkan Balasan