DiponCyberEnde, Ditengah Covid-19, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Sekolah Dasar Katolik (SDK) Ende 08, tetap menerapkan pembelajaran jarak jauh ( PJJ ). Senin, 19/04/2021

Kepala Sekolah SDK Ende 08 Magdalena Mone mengatakan, dalam menerapkan PJJ ada dua opsi yang digunakan diantaranya, materi dikirim fia whatsApp, dan anak yang tidak memiliki hp android materinya akan diambil orang tuanya di sekolah. Sementara, jumlah anak didik yang memiliki hp android diperkirakan 70%, sedangkan yang tidak memiliki hp android ada 30 % dari kelas satu (1) sampai kelas enam (6).

Ia menambahkan, dari metode pembelajaran jarak jauh, tidak bisa membedakan anak yang benar benar mampu dengan yang tidak mampu dari hasil tugas yang dikerjakan anak didik. Karena nilai yang diinput seratus (100) semua.

“Karena kalau ada jawaban salah kata, mungkin kami bisa tau. Tapi ini persis persis, ini sudah tidak mungkin”, tandasnya.

Dikatakannya, menurut edaran dari Dinas, untuk pedampingan anak kami turun lapangan, selama empat (4) bulan tahun 2020. PJJ dilakukan dari kelas satu sampai kelas enam, dibagi perkelompok, sehingga waktu yang digunakan kami bisa sampai dengan pukul 14.00 wita. Sekalipun lembur, kami memang tidak ada uang, jadi anggap sukarela. Januari 2021, kami sudah tidak berlakukan, karena saat itu pandemi covid-19 meningkat.

Sekolah SDK Ende 08, pada tahun 2021 ada 11 tenaga pengajar diantaranya, 10 tenaga PNS dan satunya tenaga Guru Tidak Tetap (GTT). Tahun 2021, tenaga guru PNS sisa tujuh (7) dan non PNS ada empat (4).

Terkait keluhan orang tua, dirinya menambahkan, selama ini orang tua banyak mengeluh soal kuota internet untuk belajar online, karena hampir setiap minggu mereka membeli kuota internet. Saat itu, ada penyampaian dari pihak dinas, kuota internet belajar online untuk siswa dari pemerintah pusat dalam hal ini kementrian terkait. Tapi hingga saat ini, kuota internetnya belum ada.

“Tapi untuk siswa, katanya ada dari pusat kuota internet dari pemerintah melalui dinas terkait, tapi sampai sekarang belum ada. Karena ada sekolah lain, tapi kami punya sekolah tidak ada, mungkin karena kami sekolah swasta”, ujarnya.

Saat itu, data orang tua siswa diinput untuk mendapatkan kuota intrnet dari operator sekolah diantaranya, nama anak, nama orang tua, alamat tinggal dan nomor handphone untuk masuk data dapodik, lalu dikirim ke kementrian. Sayang, sampai sekarang kuotanya belum pernah masuk.

Guru GTT, Maria Marlince Guru Wali Kelas Dua mengatakan, dirinya sudah dua tahun mengabdi sebagai guru. dengan upah delapan ratus ribu rupiah (Rp. 800.000) perbulan, selama masa pandemi, ia mengunjungi siswa dari kelompok ke-kelompok. Siswa Belajar dari rumah (BDR). Kesulitan yang dihadapi, membawa alat peraga atau sarana yang dibutuhkan dalam seni budaya dan keterampilan (SBDT) maupun belajar dari rumuh (BDR). Kadang juga cari lagi murid murid yang tidak ada di tempat.

“Yang menjadi kesulitan buat kami dalam alat peraga, membawa bola, pensil warna, kalau BDR. Yang harus kami bawa alat peraga, untuk bisa contohkan kepada peserta didik, supaya anak tidak bosan”, tuturnya. (AS).

Tinggalkan Balasan