DiponCyberEnde, Mencermati situasi riil, meningkatnya pasien yang terpapar wabah Covid-19 diwilayah NTT umumnya dan Kabupaten Ende khususnya berdasarkan data dari pihak gugus tugas

Para Pastor Paroki dan Pastor Kuasi Paroki se-Kevikepan Ende melakukan kesepakatan bersama dengan merujuk pada surat pastoral yang Mulia Uskup Agung Ende Nomor 006/KUS/27012021, tentang panduan pastoral umat pada kondisi meningkatnya penularan wabah covid 19. Jumat, 14/05/2021.

Kesepakatan tersebut, dibuat di Rumah Kevikepan Ende, bersama Vikep Ende RD. Adolf Keo, pada 10 Mei 2021.

Beberapa hal penting yang disepakati oleh para Pastor Paroki dan Pastor Kuasi Paroki se-Kevikepan Ende antara lain,

  1. Mendukung sepenuhnya upaya dari berbagai pihak untuk melakukan pencegahan dan pemutusan mata rantai penyebaran wabah covid 19
  2. Mendesak pihak pemerintah dan gugus tugas Kabupaten Ende untuk secara serius melaksanakan semua instruksi baik yang dikeluarkan oleh gugus tugas Nasional, Gubernur, maupun Bupati Ende sendiri, sehubungan dengan penanganan pasien covid 19 dan, usaha usaha pencegahan merebaknya wabah covid 19 ditengah masyarakat Kabupaten Ende
  3. Perlu dibuat panduan pastoral bersama untuk seluruh paroki di Kevikepan Ende dalam situasi khusus ini, agar umat tidak kebingungan menghadapi praktek pelayanan pastoral yang berbeda beda dari paroki yang satu dengan yang lain.
  4. Beberapa panduan pastoral yang harus dilaksanakan di paroki paroki Kevikepan Ende yakni,
  • Semua bentuk kegiatan pastoral yang berpeluang mengumpulkan banyak orang dan sulit untuk menjamin bahwa umat kita taat akan protokol kesehatan seperti do’a rosario di KUB dalam jumlah yang besar, ziarah ziarah dalam bulan Mei ini tidak boleh dilaksanakan (bdk. Surat pastoral uskup No. 1)
  • Perayaan ekaristi requem dan misa misa peringatan arwah boleh dilaksanakan di Gereja paroki atau Kapela kapela Stasi terdekat dengan tetap mentaati prokes
  • Perayaan ekaristi untuk intensi apapun belum diperkenankan, dirayakan dilingkungan atau KUB
  • Penerimaan sakramen sakramen yang berpotensi menggerakan dan mengumpulkan banyak orang seperti sakramen perkawinan, komuni pertama, dalam kondisi yang belum kondusif ini, belum diperkenankan untuk dilaksanakan. Kalaupun terpaksa dilaksanakan atas alasan tertentu keluarga harus menjamin bahwa tidak akan dilaksanakan pesta, setelah perayaan ekaristi di Gereja. Untuk upacara pemberkatan nikah hanya boleh dihadiri oleh maksimal 20 orang dan tanpa anggota koor.
  • Kita tidak bisa memastikan apakah umat kita, yang membutuhkan pelayanan sakramen minyak suci bebas dri covid 19, karena banyak umat yang tidak berani memeriksakan diri ke puskesmas atau ke rumah sakit apalagi melakukan SWAB. Karena itu pelayanan minyak suci bagi umat, untuk sementara tidak dilayani.
  • Demi menjaga diri dan keluarga dari penyebaran wabah covid 19 teristimewa kini varan baru covid 19 yang kini sudah masuk dibeberapa propinsi  di Indonesia, seluruh umat dihimbau untuk mengurangi mobilitas/mengurangi perjalanan. Sejauh tidak ada kebutuhan mendesak, umat dihimbau untuk di rumah saja. Kegiatan kegiatan yang bersifat rekreatif diluar rumah, khususnya ditempat tempat umum yang berpotensi terjadinya penyebaran wabah covid 19 untuk sementara dihentikan. (AS)

Tinggalkan Balasan