DiponCyberMaumere, Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka akan melakukan pinjaman Daerah dalam rangka Mendukung Progam Pemulihan Ekonomi Nasional tahun 2021 yang dananya bersumber dari PT. Sarana Multi Infrastruktur (persero) sebesar 216 miliar rupiah lebih, dengan jangka waktu pengembalian selama 8 tahun dengan bunga sebesar 6,19 persen mendapat pro kontra dan kritikan maupun saran dari berbagai lapisan masyarakat Kabupaten Sikka hingga menjadi perdebatan hangat di media sosial beberapa hari terakhir ini.

Salah satu mahasiswa Universitas Nusa Nipa Maumere ikut memberikan tanggapan, terkait kebijakan yang di ambil oleh Pemerintah Daerah Sikka. Senin, 21/06/2021

Yakobus T. Horang menilai langkah Pemerintah Daerah Sikka meminjam dana 216 Miliar rupiah itu full of interest and lust for power Bupati Roby Idong.

Bupati Roby Idong merupakan pemenang kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Sikka 2018/2023 bersama pasangannya Romanus Woga.

Mari kita meletakkan diri untuk berada disisi rasional dan jangan negatif thinking “mengapa dan untuk kepentingan siapa pinjaman 216 Miliar ?,” Ungakap Yakobus.

“Dalam politik praktis, politik dapat diartikan bagaimana mendapatkan dan mempertahankan Kekuasaan,” Tandas Tonce.

Lebih lanjut Yakobus juga menilai, kebijakan peminjaman dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui PT. SMI senilai 216 miliar merupakan politik menuju konstalasi periode berikutnya.

“Secara praktis, kita ketahui bahwa untuk meraih atau mendapatkan kekuasaan politik itu pasti membutuhkan modal atau biaya politik fantastis. Sehingga untuk mendapatkan modal Ini politisi faktanya melakukan perjanjian politik dengan pemilik modal misalnya Kontraktor.

Ataupun juga melalui banyak item proyek nantinya akan memuluskan langkah untuk mengumpulkan uang menuju konstalasi berikutnya.

Hal ini sangat berdampak pada kebijakan yang diambil oleh mereka yang mendapatkan kekuasaan itu, yaitu kepentingan pemodal menjadi prioritas bukan lagi kesejahteraan masyarakat yang diutamakan sebagaimana tujuan dari politik Itu sendiri.

Mahasiswa unipa ini  juga meyakini jika kebijakan pinjaman 216 Miliar rupiah, disebut sebagai cara untuk mempertahankan kekuasaan pada pilkada 2024 yang akan datang

Ia menilai, Bupati Sikka saat ini sedang merawat pemilik modal, demi memuluskan cara mempertahankan kekuasaan pada Pilkada yang akan datang. Pinjaman modal untuk kepentingan PEN, ia juga mempertanyakan sisi efektifnya dan sasarannya apakah sesuai dengan tujuan dari dana yang dipinjam.

“Jika cara kekuasaan menggunakan pola seperti ini, pertanyaannya apakah kesejahteraan masyarakat bisa terwujud? Lebih kusus pinjaman 216 Miliar rupiah untuk infrastruktur, apakah efektif atau tepat sasaran?, Masa depan Sikka jadi abu-abu jika praktik busuk politik diterima begitu saja!,” Tandasnya. (WY)

Tinggalkan Balasan