Oleh: Iwan Da Cunha

Rumah sakit yang dikenal memiliki Visi: “Menjadi Rumah Sakit yang memberikan pelayanan yang berkualitas, memuaskan pelanggan dan menjadi Rumah Sakit rujukan di daratan Flores”, akhir-akhir ini banyak dikeluhkan soal penanganan yang diberikan terhadap pasien yang dirujuk ke rumah sakit ini. Di tengah wabah corona yang kian mengganas, baik dari pihak pemerintah maupun dari pihak tenaga kesehatan menyerukan masyarakat untuk menjalankan secara ketat 3 M yakni mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Hal ini dilakukan untuk mengurangi penularan dan pemutusan rantai penyebaran virus ini.

Tindakan ekstrim pun dilakukan oleh pihak pemerintah dengan memberlakukan PPKM dan bertindak tegas dengan memberikan sanksi kepada pihak yang melakukan pelanggaran. Tetapi di satu sisi, dari pihak tenaga kesehatan sepertinya membiarkan atau dapat dikatakan melakukan “pembiaran” terhadap penyebaran virus ini.
Hal ini berangkat dari pengalaman nyata yang kami alami atas pelayanan yang kami terima selama berada di RSUD TC Hillers Maumere. Pada Rabu Malam (14 July 2021), karena kondisi Ayah kami yang sudah beberapa hari terbaring lemah dan kehilangan nafsu makan ini, membuat kami membawaNya ke RSUD TC Hillers Maumere agar mendapat pelayanan dan pengobatan demi pemulihan kesehatanNya.

Seperti yang diketahui dan menjadi salah satu persyaratan untuk memperoleh pelayanan dan pengobatan selanjutnya, setiap pasien yang dibawa harus melakukan tes SWAB ANTIGEN dan SWAB PCR. Kedua tes ini telah dilakukan oleh Ayah kami dan kata petugas kesehatan RSUD TC Hillers Maumere hasil tes keduanya NEGATIF. Namun keesokan harinya, mungkin pihak RSUD TC Hillers Maumere memiliki alasan tertentu yang tanpa dijelaskan secara terbuka kepada kami pihak keluarga, memilih untuk melakukan SWAB PCR kedua kalinya untuk pastikan Ayah kami terpapar virus corona atau tidak. Dan dari hasil kedua ini, Ayah kami dinyatakan POSITIF. Namun anehnya, hasil dari ketiga tes ini diberikan secara lisan, tanpa ada penunjukkan bukti tertulis bahwa Ayah kami terpapar corona.

Ini membuat kami heran dan sulit untuk menerimanya karena setahu kami dimana saja ketika kita melakukan tes SWAB ANTIGEN atau SWAB PCR kita akan memperoleh hasil tertulis. Tetapi di RSUD TC Hillers Maumere yang katanya rumah sakit terbaik ini tidak menunjukkan hal itu, padahal hal itu menjadi hak kami sebagai keluarga pasien untuk mengetahuinya. Dari pihak kami bersikeras meminta petugas kesehatan untuk menunjukkan hasil tes itu tapi pihak rumah sakit selalu menolaknya. Menghadapi hal ini, kami sekeluarga menerimanya dan membiarkan Ayah kami untuk diisolasi dengan harapan Ayah kami cepat pulih. Tetapi lagi-lagi di sini pihak rumah sakit menunjukkan ketidakprofesionalitasannya dalam menangani pasien yang telah mereka nyatakan terpapar corona.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pasien yang terpapar corona akan diisolasi dan akan ditangani oleh petugas kesehatan dengan mengikuti PROKES yang ketat. Tetapi dalam kenyataannya, pihak rumah sakit membiarkan pihak kami untuk membantu menjaga dan merawat Ayah kami yang terpapar virus ini tanpa ada PROKES yang ketat. Salah seorang dari anggota keluarga kami dibiarkan untuk mendampingi ayah kami tanpa mengenakan APD atau perlengkapan yang seharusnya. Di tambah lagi dengan petugas kesehatan yang membantu merawat Ayah kami ini juga tidak dilengkapi dengan APD dan hanya bermodalkan masker saja. Di sini timbul kecurigaan dan pertanyaan dari kami bahwa mungkin Ayah kami tidak terpapar virus ini. Ini hanyalah permainan dan “akal-akalan” dari pihak rumah sakit agar memperoleh kucuran dana yang diperuntukkan bagi penanganan covid ini. Dapat dikatakan bahwa demi memperoleh dana tersebut pihak rumah sakit berusaha untuk sebisa mungkin meng “covid” kan pasien yang memiliki kemungkinan untuk terpapar virus ini.

Mengapa kami berpendapat demikian, karena seperti yang diketahui semenjak virus ini muncul, hampir di seluruh dunia orang-orang berusaha keras untuk memberantas dan memutuskan rantai penyebaran virus ini. Kebijakan LOCKDOWN pun menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi penyebaran virus ini. Dan dari pihak kesehatan sangat gencar untuk melakukan gerakan 3 M ini. Tetapi dengan melihat kenyataan yang kami alami ini, dapat kita cermati bahwa tenaga kesehatan dalam hal ini tenaga kesehatan RSUD TC Hillers Maumere menjadi salah satu actor yang melakukan dan mengizinkan penyebaran virus ini tetap ada. Di satu sisi, mereka bersemangat untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini lewat program 3 M itu. Tetapi di sisi lain, mereka membiarkan dan melakukan pembiaran terhadap penyebaran virus ini. Mungkin dengan melakukan pembiaran ini yakni membiarkan anggota keluarga sendiri yang menangani keluarganya yang terpapar virus ini, mereka berharap agar jumlah korban yang terpapar semakin banyak. Dengan demikian pemasukan yang mereka peroleh semakin bertambah.

Di sini terlihat adanya maksud terselubung penumpukan kekayaan yang dilakukan pihak rumah sakit. Miris memang, ditengah kehidupan perekonomian yang melesu ini, pihak RSUD TC Hillers menggadaikan rasa kemanusian mereka dengan berusaha untuk menambah penderitaan keluarga pasien dengan tindakan pembiaran yang mereka lakukan. Di samping itu, tindakan peng “covid-an” pasien juga membuat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pihak rumah sakit atau tenaga kesehatan melemah. Belajar dari pengalaman ini, kami mengharapkan agar pihak RSUD TC Hillers Maumere dapat berefleksi dan berbenah agar visi mulia yang dimiliki dapat diwujudnyatakan dalam tugas dan pengabdian kepada masyarakat. Jadilah tenaga kesehatan yang mencerminkan kejujuran dan keterbukaan dalam pelayanan, bukannya menjadi pecundang yang memanfaatkan kesempatan dalam “kesempitan” wabah ini.

4 Responses

  1. Rince

    Saya juga mengalami hal serupa dan sama persis. Ayah saya meninggal karena Covid, tetapi sampai ayah meninggal kami tidak mendapatkan bukti hasil swab nasofaring dan PCR dari pihak rumah sakit. Saya juga waktu itu yang jaga bapa di ruang isolasi, hanya bermodalkan masker saja, tetapi puji Tuhan 3x swab hasilnya negatif termasuk swab yg dilakukan d Dinkes 🙏🏼… Sampai saat ini keterbukaan dari pihak RS terhadap hasil swab pasien yg masih membuat masyarakat ragu dan semakin menimbulkan kepercayaan bahwa ada beberapa oknum yang meng covidkan pasien 🙏🏼

    Balas
  2. Edwin enderson joa

    Namanya sudah berhubungan dengan dana , pasti ada banyak cara supaya mendapatkan dana tsb. Di sisi lain , mereka tdk melihat kondisi masyarakat yg makin hari makin susah.

    Balas
  3. Yoseph Trisnomaurids

    Harus di tindaklanjuti secepatnya, bjsa” hancur kota Moke

    Balas
    • Dede Ari

      Kita patut mencurigai hal ini..apalagi PPKM belum berdampak positif bahkan setiap hari korban berjatuhan.. moga saja Manajemen RSUD TC Hillers profesional dalam menanggapi hal ini.. jangan sampai hal yg tdk diinginkan terjadi.
      Kasihan masyarakat kecil dikorbankan, pemkab sikka harus lebih tegas lagi dalam hal penanganan perawatan pasien Covid 19

      Balas

Tinggalkan Balasan