DiponCyberEnde, Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Ende perdana memfasilitasi sertifikasi ekspor produk tumbuhan, yaitu bubuk daun kelor (moringa powder). Komoditas pertanian tersebut kali pertama ekspor dari Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur ke pasar dunia, yaitu Hongkong dan Singapura. Adapun volumenya yang diekspor sebanyak 24 kilogram dengan nilai sebesar Rp 24 juta rupiah. Senin, 27/09/2021.

“Sebelum terbit phytosanitary sertificate (PC-red), Karantina Pertanian Ende melalui Wilayah Kerja Labuan Bajo sudah melakukan tindakan karantina, yaitu pemeriksaan fisik maupun administrasi. Hal ini untuk memastikan keberterimaan komoditas pertanian di negara tujuan,” kata Kepala Karantina Pertanian Ende, Kostan Manalu dalam keterangan tertulisnya di Ende, Nusa Tenggara Timur, Senin (27/9).

Kostan menambahkan, pihaknya terus melakukan pendampingan kepada CV. Surga Timur Indonesia sebelum mengekspor daun kelor. Adapun bentuk pendampingan yaitu memastikan persyaratan dan informasi negara tujuan.

Sebagai informasi, Pulau Flores merupakan salah satu daerah penghasil kelor terbanyak di Indonesia. Daun kelor banyak dikonsumsi masyarakat Flores sebagai sayur. Bahkan daun ini banyak menjadi bahan untuk obat tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Pemanfaatan Aplikasi i-Mace

Karantina Pertanian Ende terus berkomitmen mendukung program Kementerian Pertanian melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks). Berada di wilayah Pulau Flores dan Lembata yang memiliki potensi komoditas ekspor dari sektor perkebunan, Karantina Pertanian Ende optimistis untuk dapat meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Tentunya selalu bersinergi dengan pemangku kepentingan.

Sebelumnya, Karantina Pertanian Semarang dan Medan pernah memfasilitasi ekspor kelor ini ke Singapura dan Australia. Berdasarkan aplikasi i-Mace, sertifikasi daun kelor juga pernah dilakukan dengan tujuan negara yaitu Jepang, Selandia Baru, Jerman, dan lainnya. Volume nasional ekspor kelor sepanjang 2021 ini mencapai 11,88 ton ke berbagai negara.

“Kami berharap agar ke depannya ekspor ini tidak hanya dari tanaman kelor saja, tetapi geliat komoditas pertanian lainnya yang mulai dan terus bertumbuh. Termasuk munculnya ekspor dari komoditas lain seperti kopi, kakao, biji mede, sarang burung walet, porang, dan lainnya. Peluang pasar sangat terbuka luas, informasinya dapat kita ketahui dari aplikasi i-Mace (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports-red),’’ tutur Kostan.

Turut hadir melepas ekspor perdana yang digelar di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, Minggu (26/9) adalah Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, pejabat pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Labuan Bajo dan instansi terkait lainnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang, mengapresiasi ekspor perdana dari Pulau Flores ini. “Semangat ekspor harus terus kita dorong dengan memberikan pendampingan kepada para calon eksportir yang ada di daerah masing-masing agar geliat ekspor semakin meningkat,’’ tutup Bambang

Demikian rilis yang diterima media ini, dibagikan melalui group Whatsapp Karantina Ende.

Tinggalkan Balasan