DiponCyberEnde, Kondradus Raja atau biasa disapa Hery usia 40 tahun, pria asal kampung Nuabosi – Kecamatan Ende, menjalani aktivitas sehari hari sebagai seorang pedagang Ubi Kayu Nuabosi di pasar Mbongawani Kota Ende – Flores – NTT. Selasa, 02/11/2021.

Hery, sudah memiliki seorang istri bernama Anjelina Ndao (Ani) usia 32 tahun, dan dikaruniai dua orang anak, berdagang ubi Nuabosi di pasar Mbongawani sudah menjadi profesinya, sedangkan istrinya sebagai Ibu rumah tangga.

Sebelum berjualan ubi kayu (uwi tanah ai), dulu dirinya sebagai petani kecil, karena kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, akhirnya hery harus menjadi seorang pedagang ubi Nuabosi di pasar Mbongawani – Ende.

Bekerja sebagai penjual ubi kayu, sudah Hery tekuni sejak tahun 2001 sampai sekarang masih menjual ubi Nuabosi. Ubi yang dijual Hery, bukan dari hasil tanamannya melainkan dibeli atau pesan dari petani ubi kayu yang berada di Kampung Nuabosi dan dijualnya di pasar Mbongawani – Ende.

Di petani ubi, biasanya Hery beli dengan harga Rp. 40 ribu perikat, atau sistem piutang, jika jualan ubinya laku, baru biaya ubi kayu dibayar ke petani. Sehingga, saat pagi pada pukul 04.00 atau 05.00 wita, Hery sudah berada dipasar Mbongawani untuk menyiapkan barang dagangannya untuk dijual. Sementara, jarak antara kampung Nuabosi dan pasar Mbongawani – Ende, lumayan jauh.

Biaya atau ongkos yang mesti ditanggung Hery menyewa kenadaraan (mobil) diperkirakan Rp. 10 ribu perorang, jika ada barang dagangan maka ia harus membayar lebih, karena ongkos yang dihitung sesuai banyaknya barang dagangan, biasanya perikat dihitung seribu rupiah untuk bisa tiba di pasar Mbongawani – Ende.

Mengenai hasil keuntungan yang diperoleh Hery sebagai pedagang ubi Nuabosi mengatakan, kadang untung, kadang juga rugi, apalagi dimasa pandemic seperti ini. Hery juga katakan, dulu sebelum pandemic dagangannya laris terjual, setiap hari ramai didatangi pembeli. “Dulu sebelum pandemic, biasanya satu hari bisa sampai dengan lima puluh atau seratus ikat perhari habis dijual“, pukas Hery.

Pada masa pandemi sekarang ini, dagangannya sepih dari pembeli, dan hasil dagangannya mengalami penurunan yang drastis bahkan tidak laku. Mengatasi hal itu, Hery mencoba jual dengan harga murah, kisaran harga jual yang dicobanya berkisar Rp. 10 ribu sampai Rp. 15 ribu perikat, itu dilakukan selama tiga hari kedepan sesuai masa bertahan ubi kayu tersebut, jika lewat dari itu, artinya ubi tersebut sudah rusak dan tidak bisa dijual lagi, terpaksa ubi tersebut harus dibuang.

Dirinya juga mengeluh akan kerugian yang diperoleh selama masa pandemic dari jualan ubi kayu, belum lagi harus membayar harga ubi kayu ke petani, yang awalnya dinjanjikan akan bayar setelah ubinya laku terjual sesuai dengan kesepakatan harga yang diambil dari petani. “Sangat sedih, karena selama massa pandemic hampir setiap hari barang dagangan saya, sepih pengunjung, dan tidak habis dibeli sehingga dibuang begitu saja jika sudah merusak“, ujarnya

Kerja sebagai pedagang ubi kayu, Hery mengaku sudah melakukan berbagai cara untuk mengurangi kerugian yang dialaminya, salah satunya mengurangi pesanan ubi kayu Nuabosi, agar tidak dibuang percuma apabila dagangannya tidak laku terjual.

Hery berharap, agar masa pandemic covid 19, bisa secepatnya berakhir sehingga aktivitas dagangannya bisa ramai dikunjungi pembeli, dan laris terjual seperti dulu. “Virus corona, cepatlah berlalu agar dagangan saya kembali ramai dibeli, dan laris setiap hari seperti dahulu kala sebelum pandemic ini“, pukas Hery. (Mario Reflino Sabe)

Tinggalkan Balasan