DiponCyberLabuan Bajo, PT. Amartha Karya (AMKA) menggunakan pasir mengandung garam dan lumpur dalam pengerjaan proyek SPAM Wae Mese II Labuan Bajo, Kabupaten Mangarai Barat. Pasir tersebut, digunakan untuk pengerjaan intake (bangunan penampung raksana untuk menarik air dari sungai, red) yang jaraknya hanya kurang lebih 50 meter dari bangunan rumah pompa dan kantor operasional. Pasir tersebut, diduga didatangkan dari muara pantai Nanga Nae Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai tanpa melalui proses penyaringan dan pencucian, sehingga dikhawatirkan, dapat mengurangi bahkan merusak kualitas hasil pekerjaan intek.

Demikian informasi yang dihimpun tim media ini dari sumber yang sangat layak dipercaya di lokasi proyek, pada Selasa (02/11/2021).

“Awal pekerjaan bangunan intake tersebut, pihak konsultan pengawas telah merekomondasikan PT.AMKA untuk menggunaan pasir yang ada di Kecamatan Lembor. Namun, rekomendasi pengawas tidak diindahkan PT. AMKA, karena alasan lokasinya jauh dan harganya (harga dan biaya angkut, red) mahal,” jelasnya.

Menurut sumber (yang menolak namanya disebutkan, red) yang ikut mengerjakan paket proyek tersebut, jika mengikuti kontrak kerja, pembangunan Intake tersebut semestinya dibangun di desa Garong yaitu di bendungan Wae Mese, yang jaraknya sekitar 1 KM dari bangunan rumah pompa dan kantor opersional. Namun warga setempat menolak, karena alasan pengambilan air dari bendungan Garong dapat menyebabkan kekeringan sawah milik warga masyarakat (para petani, red).

“Saat ini, kita lihat air di kali itu banyak, karena hujan digunung, tetapi kalau musim kemarau, kali ini akan kering, karena semua air itu akan tertampung di atas bendungan (di intek, red) dan akan dialiri sesuai kebutuhan (keinginan kontraktor, red),“ paparnya.

Sebagai solusi, lanjutnya, Pejabat Pembuat Komiten (PPK) dan PT. Amarta Karya (Persero) selaku kontraktor pelaksana memutuskan untuk menjadikan kali mati di bawah jembatan Wae Mese II sebagai sumber pengambilan mata air baku, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari bangunan rumah pompa dan kantor opersional.

Sumber itu juga mengungkapkan, bahwa rancangan/rakitan besi beton dinding bak dan lantai pada pengerjaan rumah mesin pompa dan bak tampungan berfariasi, mulai dari 0,18 cm hingga 0,20 cm. Spesifikasi adukan atau campuran material abu beton dan pasir diduga tidak mengikuti takaran sebagaimana aturan teknis. Campuran abu beton dan pasir menggunakan pasir mengandung zat garam bercampur lumpur yang tidak disaring dan tidak dicuci.

Supervisor PT.AMKA (Amarta Karya), Henri yang berhasil dikonfirmasi tim media ini melalui WhatsApp/WA pada Selasa (02/11/2021) membantah perusahaannya menggunakan pasir mengandung zat garam dan lumpur. “Saya tidak pernah pesan pasir muara. Silahkan dikonfirmasi ulang ke narasumber bapak, yang memberikan informasi. Tks,” tegasnya sebagaimana dalam pesan WA-nya.

Supervisor PT. AMKA bahkan balik bertanya kepada tim media, dari siapa dan darimana sumber informasi yang mengatakan bahwa PT. AMKA perusahaannya menggunakan pasir yang mengandung garam dan lumpur.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan SPAM Wae Mese II, Mahmud yang dikonfirmasi tim media ini melalui pesan WA pada Rabu, (03/11/21), menolak memberikan klarifikasi. Ia juga bahkan meminta tim media mengkonfirmasi langsung ke Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (PPW) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kami disini adalah satker pelaksanaan pak, untuk permohonan informasi dapat diperoleh dari induk kami di Balai PPW Prov. NTT, jalan Polisi Militer N0.1 Kupang. Disana ada petugas PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) di Tata Usaha sebagai pengelola informasi dan dokumentasi,“ tulisnya.

Pengerjaan intek tersebut Seperti yang disaksikan tim media ini, PT. AMKA mengambil air baku langsung dari kali mati dan sisa pembuangan air dari irigasi sawah milik warga, tepatnya dibawah jembatan Wae Mese. Jika musim kemarau tiba, debit air kali tersebut menurun sangat signifikan dan kering.

Pantauan tim media ini, terkesan pengerjaan proyek bangunan intake tersebut asal jadi, karena dua tiang penyanggah/teras depan dan kolong beton bangunan intake yang sementara dikerjakan, miring/bengkok dan tidak beraturan.

Intake tersebut, dibangun di atas tanah timbunan dengan ketebalan kurang lebih 3-4 meter. Konstruksi tiang pancang menggunakan borepile (jenis fondasi dengan elemen bertulang yang dimasukan kedalam lubang bor untuk memindahkan beban berat pada bangunan ke dalam tanah). Padahal, secara tekhnis tidak layak, karena diduga metode kerja sejak awal salah.

Untuk diketahui, proyek Pembangunan SPAM Wae Mese II berkapasitas 2 x 50 L/DTK, terletak di Kabupaten Manggarai Barat Propinsi NTT, dan dikerjakan oleh PT. AMKA dengan nilai kontrak sebesar Rp.95.500.000.000. Nomor kontrak: KU.03.04/PPK.PSPAM-NTT/FSK-APBN/17, tanggal kontrak :27 November 2020. Waktu pelaksanaan: 400 hari kelender, Tahun Anggaran 2020-2021. (…./tim).

Tinggalkan Balasan